Oleh :Dudung Koswara
Sekecil apapun usaha minimal kita dalam merawat lingkungan ekosistem tempat tinggal kita adalah sebuah indikasi luar biasa yang telah diperbuat oleh individu yang mengerti akan pentingnya kelestarian lingkungan. Beberapa pakar lingkungan yang luar biasa cerdas mengarang buku dan sering memberikan “fatwa” tentang pentingya pelestarian lingkungan, menurut penulis tidaklah lebih hebat dari manusia yang tidak pernah baca dan berbicara tentang pentingya pelestarian lingkungan tetapi ia banyak berbuat dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Diperlukan sosok-sosok istimewa yang memiliki kejujuran dan spirit untuk tetap istiqomah dalam berbuat terhadap ligkungan sekitar tanpa motif (ikhlas) pangilan hati yang paling dalam. Sosok-sosok istimewa inilah yang akan mampu mewariskan dan menginspirasi generasi baru untuk menjadi generasi cinta lingkungan (Generasi Hijau)
Bahasa yang popular sebagai jargon lingkungan “Think Globally, Act Locally”, menjelaskan secara tersirat bahwa secerdas dan segaul apapun kita di dunia modern ini tidak ada artinya tanpa berbuat dan melakukan sesuatu yang berbau lingkungan secara ril dilingkungan dimana kita tinggal. Berbuat dan berkarya jauh lebih bermakna tatkala mampu diwariskan pada generasi penerus sedini mungkin sebagai investasi jangka panjang. Penulis yakin bahwa area informal keluarga dan area formal sekolahan mampu menjadi transfer knowledge yang cukup efektif dalam menanamdalamkan nilai-nilai luhur cinta lingkungan. Orang tua dan guru dua pigur yang sangat dapat diandalkan untuk membangun karakter generasi hijau (cinta lingkungan) terhadap usia dini dan usia remaja sebagai pewaris masa depan.
Sebuah tulisan mengilustrasikan negeri kita saat ini dengan kalimat berikut : “Seiring dengan berkembangnya peradaban umat manusia, Indonesia tidak lagi nyaman untuk dihuni. Tanahnya jadi gersang dan tandus. Jangankan tongkat dan kayu, bibit unggul pun gagal tumbuh di Indonesia. Yang lebih menyedihkan, dari tahun ke tahun, Indonesia hanya menuai bencana. Banjir bandang, tanah longsor, tsunami, atau kekeringan seolah-olah sudah menjadi fenomena tahunan yang terus dan terus terjadi. Sementara itu, pembalakan hutan, perburuan satwa liar, pembakaran hutan, penebangan liar, bahkan juga illegal loging (nyaris) tak pernah luput dari agenda para perusak lingkungan. Ironisnya, para elite negeri ini seolah-olah menutup mata bahwa ulah manusia yang bertindak sewenang-wenang dalam memperlakukan lingkungan hidup bisa menjadi ancaman yang terus mengintai setiap saat”.
Tulisan diatas menurut penulis mencoba menjelaskan betapa negeri kita yang diagungkan sebagai negeri terindah bagaikan zamrud kathulistiwa suatu saat akan menjadi negeri rusak dan tak indah lagi. Kepeloporan dalam memahami kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam sangat diperlukan di negeri yang sedang terkoyak oleh individu atau kelompok masyarakat yang tidak bertanggungjawab. Diperlukan sebuah kepedulian dan kecerdasan dalam memanfaatkan sumber daya alam yang memiliki keterbatasan dan memerlukan perawatan agar tetap lestari. Kondisi terabaikannya lingkungan dan sumber daya alam menurut hemat penulis adalah sebuah peluang dan tantangan bagi individu atau masyarakat tertentu untuk melakukan langkah-langkah bijaksana cinta lingkungan.
Melalui tulisan singkat ini penulis mencoba melihat peluang emas pada penanaman nilai-nilai cinta lingkungan yang dapat dilakukan oleh pendidikan keluarga dan pendidikan sekolah, bagi penulis orang tua terhadap anaknya, guru terhadap muridnya berperan sebagai “pilot” yang akan menerbangkan anak pada nilai idealis apa dan mendaratkan pesawatnya di landasan mana. Nilai idealis cinta ekosistem dan mendaratkan karyanya pada konservasi lingkungan, maka jadilah mereka dalam istilah penulis sebagai Generasi Hijau, sebuah estapetsi edukasi dalam upaya pembenahan lingkungan. “Formal learning and informal learning for environmental”, harus ditumbuhkembangkan pada area dasar kehidupan generasi penerus sepanjang jaman.
Peran Orang Tua
Tak terhitung jumlahnya rumah penduduk yang mengindikasikan cinta lingkungan dengan membuat taman rumah yang hijau walaupun jumlahnya sangat jauh melangit dengan jumlah rumah atau keluarga yang apatis terhadap penghijauan di rumahnya. Orang tua yang menata rumahnya dengan cinta lingkungan memelihara berbagai tanaman, merawat dan mengembangbiakan tanamannya, akan menjadi pemandangan keseharian bagi seorang anak sebagai warga rumah. Perawatan lingkungan sekitar rumah dengan melibatkan perhatian dan motorik anak secara tidak langsung orang tua telah melakukan pendidikan sambil berjalan, inilah yang dalam istilah pendidikan disebut learning by doing.
Nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua dalam keluarga akan sangat membekas dan tertanam dalam, apalagi dalam usia dini inilah menurut pakar pedidikan usia dini Maria Montessori sebagai periode terpenting (Gold Period), yang akan memberikan fondasi pada kehidupan kemudian. Jika karakter anak sudah terwarnai oleh mental cinta lingkungan karena pembelajaran tidak langsung oleh orang tua dirumahnya, besar kemungkinan suatu saat ia akan menjadi individu yang sadar lingkungan. Individu-individu sadar lingkungan (Generasi Hijau) Inilah kelak kemudian akan menjadi agen perubahan positif terhadap kelestarian lingkungan. Prof. Dr.Sartono Kartodirdjo menjadi sejarawan terbaik Indonesia karena kesan pertama pada peninggalan bersejarah yang dikenalkan orang tuanya pada masa anak-anak, disinilah peran orang tua akan berdampak dominan bagi masa depan generasi muda kemudian sebagai pewaris lingkungan ekosistem kita.
Peran Guru
Orang pertama yang paling berpengaruh pada anak (generasi remaja) dalam dunia pendidikan formal adalah guru, dalam banyak hal guru mampu membangun perkembangan
kepribadian peserta didik. Peran sentral seorang guru terbukti dalam sejarah Bangsa Jepang pasca kehancuran akibat Perang Dunia ke II, bagaimana membangkitkan sebuah kehancuran total akibat perang dan mengembalikan peradaban membutuhkan peran guru. Pertanyaan yang terkenal saat itu keluar dari mulut Kaisar Hirohito adalah berapa Jumlah guru yang ada? Inventarisasi guru untuk membangun kembali Jepang dari kehancuran adalah skala prioritas, mengapa tidak untuk membenahi generasi kedepan yang lebih baik dalam mencintai lingkungan dengan mediasi guru. Kompetensi paedagogik bahkan andragogik yang dimiliki oleh seorang guru membuka peluang adanya pendekatan humanis dalam membentuk karakter cinta lingkungan. Jadikan semua guru adalah agen cinta lingkunganyang serius dan visioner dalam membentuk peserta didik secara kolektif sebagai individu sadar lingkungan.
Bom Atom di Nagasaki dan Hiroshima dengan efek traumatis kehancuran total pada dua kota ini, beberapa tahun kemudian dibangkitkembalikan dengan bantuan guru sebagai agen perubahan perbaikan Jepang yang terpuruk. Bagaimana kalau bom illegal loging, kebakaran hutan, pencemaran air/tanah, radiasi udara, dan jenis kerusakan lainnya dengan melibatkan guru sebagai tenaga pendidik yang memiliki kemampuan untuk membentuk mind set pada peserta didik, karena peserta didik adalah human investment pada masa yang akan datang. Guru sebagai tenaga pendidik memiliki peluang untuk menjelaskan kondisi lingkungan yang semakin kritis dan mengarahkan tentang pembenahan lingkungan secara kolektif dan memberi contoh melaksanakanny melalui kurikulum sekolah yang terukur dan teratur.
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan penulis sangat optimis bahwa peran orang tua dan guru yang sangat mencintai dan peduli lingkungan akan menjadi “pilot” istimewa bagi generasi baru dalam memberikan dasar akan kecintaan lingkungan. Pembangunan berkelanjutan semakin membutuhkan kesadaran kritis akan strategisnya ekosistem demi menjawab kehidupan yang semakin kompetitif dan dinamis. Secara praktek atau teori orang tua dan guru yang peduli lingkungan telah menerapkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungandan Pengelolaan Lingkungan Hidup, , semoga mereka menjadi pejuang yang tak kenal lelah untuk menanamkan nilai-nilai luhur cinta lingkungan. Mari berbuat Karena berbuat dan berkarya selalu lebih baik dari berkat-kata, gambar mewakili seribu kata-kata maka karya istimewa pada lingkungan mewakili jutaan kata-kata.
Kamis, 10 Juni 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar