Kamis, 10 Juni 2010

BIROKRASI RAMAH LINGKUNGAN MEMBENTUK KARAKTER MASYARAKAT PEDULI LINGKUNGAN

Oleh : Dudung Koswara

“Ketika pohon terakhir telah di tebang, sungai terakhir telah tercemari dan ikan terakhir telah ditangkap , kita akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan…” Pesan Greenpeace ini mencoba memberikan penyadaran dini pada masyarakat manusia yang mengindikasikan tak pernah mau peduli pada kepentingan lingkungan tempat dimanan kita hidup. Kepentingan akan uang dan sesuatu yang lainnya dimata komunitas pencinta lingkungan telah mengaborsi keberlangsungan harmonitas lingkungan. Manusia sebagai mahluk money oriented dicoba disadarkan dengan pesan diatas dari komunitas pecinta lingkungan yang sama pengguna uang tetapi tidak menggunakan uang dengan merusak lingkungan tempat siapapun melangsungkan hidupnya. Tuhan tidak menciptakan uang tetapi menciptakan lingkungan hidup tempat dimana kita melangsungkan regenerasi. Mewariskan uang pada anak cucu kita tidaklah lebih penting dibanding mewariskan lingkungan kehidupan alam yang harmoni, uang dapat dicetak bahkan dipalsukan lingkungan tidak.

Almarhum Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto “begawan” Lingkungan Hidup Indonesia yang juga memiliki reputasi internasional mengkritk keras tidak hanya kepada kita sebagai individu warga masyarakat tetapi juga pada pemerintahan di negeri ini, ia mengatakan ”Pembangunan yang dilaksanakan negara ini sejak tahun 1971 tidak melibatkan lingkungan,”dalam pemikiran beliau pembangunan ekonomi selalu lebih dominan dan meminggirkan kepentingan lingkungan. Pesan Prof. Otto dalam pembangunan yang berkelanjutan hendaknya memikirkan tiga hal penting yakni, ekologi, ekonomi dan sosial. Para pengambil kebijakan dinegeri ini tidak merencanakan pembangunan dengan baik (tidak berkelanjutan), yang muncul adalah pembangunan selalu bertentangan dengan lingkungan hidup. Spirit Prof. Otto tidak jauh berbeda dengan komunitas Greenpeace di atas yang mencoba memberikan skala prioritas pada kepentingan lingkungan hidup. Orientasi ekonomi (uang) tanpa pemahaman tentang pentingnya kecintaan dan kepedulian pada lingkungan akan melahirkan mental menumpuk uang menghancurkan ekologi (ekosistem) yang merupakan warisan bangsa yang terus harus dijaga kelestariannya. Lingkungan hidup yang tidak dijaga dan dilestarikan (konservasi) akan berubah menjadi lingkungan mati, kebalikan dari lingkungan hidup.

Tulisan singakat sederhan ini mencoba mengupas betapa pentingnya kepedulian pada lingkungan (environmental ethic) bagi setiap warga masyarakat Indonesia, selain berbagai upaya yang dilakukan oleh individu atau komunitas pecinta lingkungan tertentu, penulis menganggap perlunya upaya yang maksimal dari pemerintah. Pemerintah pusat sampai pemerintah daerah harus memiliki sebuah komitmen yang kuat dan serius dalam mengaplikasikan pemeliharaan dan kelestarian ligkungan. Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab II pasal 2 ditegaskan bahwa Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan berdasarkan tanggung jawab Negara. Pemerintah atau Negara harus menjadi skenario dan sutradara handal dalam mebentuk kesadaran kolektif tentang urgensitas dan strategisnya ekologi kita, inilah yang dimaksud penulis Birokrasi Ramah Lingkungan.

Birokrasi (pemerintah) harus mampu memberikan pencerahan dan motivasi kreatif pada masyarakat untuk mencintai lingkungannya, bila perlu membiayai, dan memberikan reward khusus pada masyarakat atau individu yang memiliki kepekaan lebih pada lingkungannya. Penulis sangat terkesan ketika berkunjung ke Kota Tomohon - Sulawesi Utara setahun yang lalu, pemerintah Kota Tomohon selain memiliki Hutan Kota sebagai manifes cinta lingkungan juga diterapakan sistem birokrasi tanam pohon. Birokrasi tanam pohon ini maksudnya adalah sebuah upaya pembiasaan bagi warga Kota Tomohon untuk peduli pada lingkungannya, disana diterapkan budaya menanam pohon dulu sebagai prasyarat mengurus kepentingan birokrasi. Contoh sederhananya adalah ketika seorang warga mau mengurus KTP-nya maka ia diwajibkan menanam pohon dan mengurusnya. Sebuah upaya cinta lingkungan yang disutradarai oleh pemerintah (birokrasi) setempat. Logo Pemkot Tomohon dengan gambar nuansa pegunungan yang hijau sepintas menyiratkan pesan filosofis “ marilah kita jaga kelestarian lingkungan kita yang indah dan nyaman”, tidaklah heran kalo Kota Tomohon mendapat julukan Kota Bunga, bahkan menjadi tempat berkunjungnya para turis baik domestic maupun luar negeri. Mengapa tidak birokrasi pemerintah daerah di seluruh Indonesia mengadopsi kebijakan ramah lingkungan seperti Kota Tomohon.

Ada memorial inspiratif dari Raja Nebukadnezar II yang memerintah dari tahun 605-562 SM membuat sebuah taman yang indah untuk permaisurinya yang bernama Amytis bagi penulis ini adalah sebuah upaya penanaman kecintaan birokrat pada keasrian lingkungan. Bagaimana sebuah Taman Bergantung dibuat sebagai miniatur lingkungan yang ideal, walaupun Nebukadnezar mempersembahkan untuk permaisurinya tetapi secara tidak langsung ia mempersembahkan pada masyarakatnya bahwa betapa pentingnya keasrian lingkungan. Lebih jauh miniatur lingkungan asri Nebukadnezar ini menginspirasi para sastrawan dan sejarawan pada zamannya untuk menuliskan tentang keindahannya, bahkan masuk kategori tujuh keajaiban dunia. Indah nian kalau semua keajaiban dunia ramah lingkungan dan tidak sebaliknya merusak lingkungan.

Berbeda dengan Nebukanezar sebagi seorang raja, seorang masyarakat biasa yang kebetulan sekampung halaman dengan penulis di Pancatengah Tasikmalaya bernama Abdul Razak begitu luar biasa kepedulian pada lingkungan , terbukti ia mendapat penghargaan Kalpataru dari Presiden Suharto tahun 1987. Sumbangsih Almarhum Abdul Razak pada lingkungan dan masyarakatnya begitu terasa, bagaimana 30 hektar sawah-sawah kering berubah menjadi produktif, bagaimana menciptakan listrik energy air mengerakan turbin yang menerangi masyarakat sekitar. Kebermanfaatan seorang rakyat biasa menjadi individu yang luar biasa karena kepeduliannya pada lingkungan. Abdul Razak membuat saluran air sepanjang 3 km melintasi bukit, tebing batu cadas , menerobos melubangi bukit sepanjang 200 meter, masih sangat kuat ingatan penulis ketika menyusuri saluran irigasi yang beliau buat, sungguh mustahil tapi terbukti. Abdul Razak dan Ma Eroh adalah pahlawan lingkungan yang patut diteladani, tidaklah berlebihan bila Pemda Tasikmalaya membuatkan patungnya di alun-alun tengah kota.

Birokrat ramah lingkungan serta warga masyarakat cinta lingkungan mampu menjadi kolaborasi strategis bagi kelestarian lingkungan dan keberlangsungan ekosistem secara berkelanjutan. Birokrasi dari atas membimbing dengan memberi contoh dalam oprasional kongkrit berupa kebijakan-kebijakan program yang peduli lingkungan. Individu teladan seperti Abdul Razak, Mak Eroh dan yang lainnya sebagai tringger bagi masyarakat sekitarnya untuk bahu-membahu melestarikan kepentingan lingkungan. Terutama pemda setingkat kota dan kabupaten diseluruh Indonesia hedaknya apresiatif dan proaktif dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan terjun langsung melalui petugas yang ditunjuk, bahkan penghargaan yang baik terhadap individu lokal yang peduli pada lingkungan harus diagendakan secara serius. Apresiasi istimewa pemda pada warganya akan mendorong warga masyarakat untuk peduli pada lingkungannya.

Sinerjitas birokrat dan masyarakat terhadap lingkungan adalah harapan dan investasi yang baik bagi keberlangsungan tata-kelola lingkungan. Birokrasi yang ramah lingkungan merupakan tindak lanjut dari Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009, akan menggiring masyarakat untuk meberdayakan dirinya dalam menjaga kelestarian lingkungan yang merupakan kepentingannya sendiri. Penulis beranggapan adanya pembangunan yang mengabaikan kepentingan lingkungan yang dilakukan oleh pemerintah secara tidak langsung menjadi iklan negatif terhadap kecintaan lingkungan. Apalagi bila para birokrat dan pejabat tinggi dengan seenaknya membangun villa-villa mewah di daerah strategis resapan air yang menjadi andalah kehidupan masyarakat. Bentuk protes warga masyarakat terhadap arogansi para pejabat yang tidak bertanggung-jawab bisa berupa aksi ketidak pedulian pada lingkungan bahkan perusakan lingkungan.

Hemat penulis dalam memberdayakan masyarakat agar peduli lingkungan ada sebuah langkah edukatif yakni membangun kemitraan yang baik dengan semua institusi pendidikan terutama setingkat pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan kecintaan pada lingkungan perlu diupayakan sejak dini, para peserta didik adalah manusia masa depan yang akan banyak berperan dalam sebuah bangsa. Pemahaman dan praktek mencintai lingkungan perlu diterapkan secara serius di jenjang pendidikan formal mereka secara menyenangkan dan rekreatif. SDN CBM Pakujajar Kota Sukabumi adalah sebuah pilot projek yang baik bagaimana sebuah sekolah tingakat dasar mampu mejadi sekolah terbaik tingkat nasional dan mendapat penghargaan Adiwiyata Mandiri dari presiden di istana negara 5 Juni 2009. Sekolah ini menjadi area studi banding beberapa sekolah di Indonesia, bahkan Kepala Sekolahnya pernah menjadi nara sumber dalam sebuah seminar tingkat nasional.

Kebijakan birokrasi ramah lingkungan yang merupakan agenda setiap pemerintah daerah khususnya dengan menjalin kerjasama dengan semua pihak adalah sebuah upaya yang harus terus ditingkatkan. Masyarakat sebagai mitra pemerintah harus didekati dan diberikan pemahaman secara mendalam tentang strategisnya kepedulian pada lingkungn, peserta didik sebagai individu pelanjut masa depan bangsa harus terdidik lebih dini dan terbiasa menjadi individu cinta lingkungan. Pemberian penghargaan kepada SBY pada saat pembukaan Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup sedunia di Nusa Dua Bali dari UNEP PBB sebagai penghargaan khusus “UNEP Award for Leadership in Ocean and Marine Management” atas kepemimpinan dan komitmennya dalam berbagai isu lingkungan global dapat menjadi modal terus melangkah bagi Bangsa Indonesia untuk lebih peduli pada lingkungan.

Kalau kementerian pendidikan lebih konsen pada mencerdaskan kehidupan bangsa maka menteri lingkungan hidup lebih berorientasi pada mencerdas-hijaukan kehidupan bangsa. Anugrah Tuhan yang tak ternilai harganya dengan sebutan Jamrud Kahatulistiwa alangkah bijaksananya kita syukuri dengan perbuatan aplikatif berupa tindakan nyata kepedulian pada kelestarian aneka ragam hayati yang kita miliki. Biarlah semua dosa kita pada lingkungan terampuni dengan tidak mengekspolitasi alam secara tidak bertanggng-jawab. Mari kita mulai dari diri kita sendiri saat ini dan seterusnya, apa yang dapat kita berikan untuk generasi kemudian tiada lain diantaranya adalah kelestarian lingkungan. Jangan sampai mereka menikmati indahnya bumi anugrah Tuhan ini hanya dalam gambar atau animasi belaka. Marilah kita bijak dan santun pada alam yang menurut orang Indian adalah ibu dari semua ibu, merusaknya sama dengan menyakiti seorang ibu. Jauhkan diri kita dari kutukan ibu pertiwi karena perbuatan sombong kita tidak mencintai lingkungan.

Semoga pemerintah sebagai sutradara, masyarakat sebagi aktor mampu berperan protagonis terhadap kelestarian lingkungan, mari berbuat bukan mari melihat. Kisah spiritual tentang seorang lelaki tua menanam biji kurma yang tidak mungkin akan dia nikmati karena sudah ujur, menginspirasi kita untuk berbuat secara ikhlas untuk kepentingan keberlangsungan kehidupan masa depan. Sikap mementingkan prioritas jangka panjang lebih baik daripada prilaku pragmatis serta apatis pada kepentingan yang lebih mulia di masa depan. Semoga Kementrian Lingkunan Hidup bersama Bapak Gusti Muahmmad Hatta lebih baik dan terus berbuat demi ibu pertiwi yang kita cintai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar