Senin, 31 Agustus 2009

SARAN PEMERHATI PENDIDIKAN

Saran Pemerhati Pendidikan
Gunawan (2008) mengungkapkan bahwa “sejarah butuh analisis kritis dan diberikan secara menarik, kalau tidak maka sejarah hanya akan menjadi fosil-fosil yang tak bernyawa”. Pemerhati pendidikan Paulo Freire mengungkapkan bahwa pembelajaran yang efektif akan terjadi bila antara guru dan siswa ditempatkan secara sejajar sebagai partnership. Dengan model hubungan seperti ini memungkinkan pendidikan itu berjalan secara dialogis dan partisipatoris. Penulis sepakat bahwa bersama-sama belajar dan menyimak suatu materi pelajaran sejarah antara guru dan siswa akan melahirkan apa yang disebut Preire dialogis partisipatoris. Paul Suparno (2002) seorang guru akan lebih efektif bila ia cinta pada siswa, menghargai nilai kemanusiaan lebih dari aturan formal, bersikap membebaskan bukan membelenggu. Prof. Suyanto P.hD (2002) guru memegang peranan sentral dalam pembelajaran, guru yang baik lebih penting dari kurikulum yang baik. Drs. Moh. Uzer Usman (2008) guru dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa hendaknya berkenan dengan hati mereka dan up to date. Dr. E Mulyasa, M.Pd (2005) menjadi guru ada tiga hal penting yakni kreatif, profesional, dan menyenangkan. Ia menambahkan guru harus bekemampuan untuk terus meningkatkan kualitasnya secara berkesinambungan (continuous quality improvement). Bambang Aryan (2008) menjadi guru hendaknya tidak hanya sekedar guru tetapi jadilah guru yang sebenarnya guru, guru biasa itu masa lalu kini guru harus profesional dan mumpuni.
Pendapat para pemerhati pendidikan di atas nampaknya kompetensi guru dituntut paripurna, harus terus digali demi terciptanya guru profesional sehingga mampu memberikan dan menyuguhkan pembelajaran yang efektif, humanis, dalam nuansa akademis. Kondisi ini akan memberikan wajah baru bagi pelajaran sejarah yang cenderung dianggap jadul (jaman dulu) menjadi gaul (kekinian) , karena guru mampu menjelaskan materi yang sedang dibahas dengan pendekatan paling aktual masa kini (Contektual Teaching and learning). Guru dapat menjadi narator yang berwawasan luas dan menghibur, humoris, informatif, dan aktual. Mampu mengomentari dan menjadi teman siswa dalam mendialogkan dan menjawab pertanyaan siswa seputar peristiwa-peristiwa aktual.
Tidaklah mudah menjadi guru sejarah kalau tidak mengerti psikologis siswa dan tidak memiliki wawasan yang luas mengenai pendekatan pembelajaran yang efektif. Era globalisasi dengan segala macam informasi yang lebih cepat diterima oleh siswa, menempatkan guru pada posisi harus berlari lebih dulu dari siswanya, bila ketinggalan informasi maka gurunya dianggap tidak kompeten dan kurang berita (kuber). Guru yang tidak kompeten dan kuber akan ditinggalkan dan dianggap menjenuhkan karena tidak menyampaikan sesuatu yang informatif, edukatif, rekreatif, dan inspiratif.
Menurut hemat penulis ada empat metode pembelajaran sejarah yang efektif setelah menempatkan siswa sebagai teman belajar. Metode ini diharapkan siswa dapat terlibat dan terdorong emosinya untuk belajar lebih baik, sesuai dengan materi yang sedang diajarkan dikelas. Guru secara situasional harus mampu melakukan metode yang tepat sesuai kebutuhan kurikulum dan kebutuhan psikologis siswa. Metode yang dimaksud oleh penulis adalah:
Pertama: metode check and recek merupakan pembelajaran sejarah di ruang terbuka dengan mengunjungi situs-situs bersejarah, nara sumber serta pelaku sejarah ataupun saksi sejarah. Siswa dapat membuktikan apa yang disampaikan secara teori di sekolah, dengan kenyataan di lapangan.

Gambar 1. Siswa sedang cek and recek di lapangan
Kedua: metode apresiator merupakan pembelajaran sejarah yang menayangan film dokumenter atau film komersial yang memiliki keterkaitan dengan suatu peristiwa bersejarah. Siswa dapat mengomentari dan berdiskusi lebih banyak setelah tayangan film selesai.


Gambar 2. Film dokumenter sebagai media apresiator pembelajaran sejarah

Ketiga: Metode gaul menghubungkan pelajaran sejarah dengan peristiwa teraktual yang ada di media massa.Siswa dapat diposisikan sebagai bagian nara sumber seandainya lebih memahami.

Gambar 3. Informasi up to date media masa dalam pelajaran sejarah.

Keempat: metode Edu-net memanfaatkan media internet sebagai bahan dialog dan pencarian sumber-sumber sejarah. Siswa diposisikan sebagai penjelajah dunia maya mencari keterangan-keterangan sejarah.

Gambar 4. Internet menjadi media pencarian keterangan sejarah secara kolektif

Empat metode diatas menurut penulis dapat menjadi solusi dalam menciptakan pembelajaran sejarah yang efektif dan kondusif. Semoga mata pelajaran sejarah tidak menjadi pelajaran yang paling tidak menarik lagi. Metode ini akan lebih efektif bila guru sebagai mediator memiliki wawasan yang luas, humoris, visioner, demokratis, dialogis, dan penuh keteladanan serta mencintai profesinya.
Spirit Nasionalisme Dalam Era Globalisasi
Nana Supriatna (2006) mengartikan nasionalisme sebagai paham yang menempatkan rasa kebangsaan diatas kepentingan yang lain, sedangkan Joseph Ernest Renant mengartikan nasionalisme sebagai keinginan untuk bersatu/hidup bersama. Hans Kohn mengartikan nasionalisme sebagai suatu paham yang menghendaki kesetiaan tertinggi diserahkan pada negara,. Menurut L. Stoddard Nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian terbesar individu di mana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa. Louis Sneyder Nasionalisme adalah hasil dari perpaduan faktor-faktor politik, ekonomi, sosial, dan intelektual. Sulaimanzi (2007) nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Nasionalisme dapat disimpulkan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain, atau paham kebangsaan, dan bagi kita adalah kebangsaan Indonesia, paham ke-Indonesiaan.
Sedangkan globalisasi adalah , pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt tahun 1985 yang menunjuk pada politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Menurut sejarahnya, akar munculnya globalisasi adalah revolusi elektronik dan disintegrasi negara-negara komunis. Whandi (2008) Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia, globalisasi diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya.
Tri Darmiyati (2008) globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari anak remaja kita lebih mengenal tanggal kematian King of Pop Michael Jacson dari pada pahlawan bangsanya, lebih menyukai vitza, hamburger, hot dog daripada makanan sehat dirumahnya sendiri, lebih senang memakai Blue Jeans daripada memakai pakain produk dalam negeri sendiri, bahkan lebih senang disebut anak nongkro MTV daripada sebutan pelajar yang rajin.
Kondisi mental diatas menjadi sebuah permasalahan yang harus disikapi secara bijaksana, bagaimana menciptakan mental generasi muda kita yang siap berperan di era globalisasi dengan tetap mengakui dan menjaga nilai-nilai baik dari bangsanya sendiri. Ke-Indonesiaan tetap harus ada karena nasionalisme adalah ibarat badan kita dan globalisasi adalah baju kita yang senantiasa berkembang dan berganti setiap masa. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, jati diri ke-Indonesiaan menjadi landasan dan pondasi permanen bagi tantangan dan budaya global yang terus berkembang. Globalisasi dan trendnya etika global tidak harus mengikis falsafah hidup meluluh-lantakkan segala sesuatu yang berbau ke-Indonesiaan dan bernilai ke-Indonesiaan.
Spirit nasionalisme yang tinggi di era globalisasi adalah sebuah tuntutan demi membendung dan meregulasi setiap hal baru yang masuk pada kehidupan bangsa Indonesia. Masalahnya dari mana kita mulai membangun? Penulis setuju dan mencoba mengadopsi spirit Amerika dan Jepang dalam upaya perbaikan bangsanya yakni memulainya dari dunia pendidikan. Terbuktilah kemudian bahwa Jepang dan Amerika menjadi negara yang paling diperhitungkan di dunia setelah membenahi dunia pendidikan. Kelas merupakan dunia empiris formal pendidikan yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan pengertian dan sosialisasi bijaksanan dalam merespon arus globalisasi dan menanamkan spirit kebangsaan. Filosofi nilai-nilai budaya Indonesia tidak mungkin ditinggalkan serta globalisasipun tidak mungkin diabaikan, penulis menganggap pembelajaran sejarah mampu menjadi bagian dari penanaman spirit nasionalisme dan pemahaman tentang globalisasi.
Penulis menganalogikan globalisasi ibarat air sungai yang deras yang berkelok-kelok, manusia Indonesia adalah sekelompok peserta arung jeram dalam sebuah lomba dan nasionalisme adalah perahu karet (Rafting Boat) arung jeram. Logikanya peserta arung jeram (rakyat Indonesia) harus punya perahu karet arung jeram (Rafting Boat) yang baik (nasionalisme) untuk menaklukan aliran sungai yang deras dan berkelok takkan pernah berhenti (globalisasi).

Gambar 5. Arung Jeram ilustrasi perjuangan nasionalisme dalam globalisasi

Pendekatan pembelajaran sejarah yang menariklah yang mampu menjadi media transfer nasionalisme pada siswa. Guru harus mampu membangun hubungan yang harmosnis dan berkelanjutan tak pernah putus untuk terus memberikan wawasan dan pengetahuan. Globalisasi yang terus bergerak dalam keseharian peserta didik diimbangi dengan tiada hentinya guru memberikan pembelajaran penuh makna pada siswanya. Seorang guru mata pelajaran sejarah harus menjadi idola dan inspirasi bagi siswanya, mencintai mereka dan sering bersama mereka membentuk learning community secara alami. Taufik Abdulah dalam “Nasionalisme dan Sejarah” (2001) menjelaskan bahwa nasionalisme agar bertahan dalam melawan arus globalisasi maka nasionalisme harus dikembalikan pada yang empunya yakni masyarakat bangsa Indonesia. Prof Dr. Rochiati Wiriaatmadja, MA dalam “Pendidikan Sejarah di Indonesia”(2002) pendidikan sejarah akan mampu memunculkan rasa keterikatan (sense of solidarity), rasa keterpautan dan rasa saling memiliki (sense of belonging), kemudian rasa bangga (sense of pride). Selanjutnya ia mengatakan apabila upaya pendidikan dilakukan secara berulang-ulang terhadap siswa yang berkaitan dengan tanah air dan bangsa lambat laun akan menumbuhkan karakter dan kepribadian bangsa. Lebih jelas Soedjatmoko dalam “Etika Pembebasan” (1983) menjelaskan kepribadian bangsa adalah sumber mata air dari vitalitas dan kreativitas bangsa tersebut, tanpa kepribadian bangsa maka vitalitas, aktivitas, dan kreativitas bangsa tidak akan memiliki akarnya.
Dehistorisasi meminjam istilah Sartono Kartodirdjo (1992) jangan terjadi karena globalisasi yang begitu deras atau karena apapun, Cicero mengingatkan barang siap tidak mengenal sejarahnnya akan tetap menjadi anak kecil. Jadi kalau masyarakat kita mengalami dehistorisasi maka yang terjadi adalah masyarakat yang mengindap amnesia , amnesia kolektif tidak akan mampu memberikan filosofi hidup bagi generasi selanjutnya, inilah yang dalam hemat penulis menjadi bencana sejarah yang melenyapkan sejarah.
Kesimpulam penulis mata pelajaran sejarah dengan KBM yang efektif, humanis, dialogis, rekreatif, dan inspiratif mampu menjadi bagian dari penumbuhkembangan nasionalisme dalam era globalisasi. Ditengah pergaulan remaja pelajar masa kini dibutuhkan guru-guru yang memiliki kompetensi, loyalitas, dedikasi, keteladan, humanis, demokratis, dan bukan sekedar guru biasa tetapi guru yang sebenar-benarnya guru. Mari kita tanamkan bersama nilai-nilai nasionalisme dalam berbangsa ditengah iklim dunia yang tanpa batas geografis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar