Senin, 31 Agustus 2009

RENUNGAN

Anggapan terhadap Mata Pelajaran Sejarah
Banyak asumsi tentang kekeringan dan kejenuhan dari para peserta didik di setiap satuan pendidikan berkaitan dengan mata pelajaran sejarah, bahkan tidak jarang pula pendidik sekaligus harus berupaya keras untuk melakukan pendekatan pembelajaran yang baik dalam menyampaikan materi-materi yang berkaitan dengan mata pelajaran sejarah agar peserta didik terlibat baik emosi ataupun knowledgenya. Ungkapan-ungkapan miring dan sikap skeptis dalam pembelajaran sejarah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses KBM mata pelajaran sejarah.
Pembelajaran yang menjenuhkan dan tidak menggugah afeksi hanya menghabiskan waktu dan menciptakan suasan jenuh yang jauh dari upaya penanaman wawasan dan spirit belajar. Lebih terbuka Teja Angkasa (2003) mengungkapkan bahwa mata pelajaran sejarah menjadi sesuatu yang basi dan tidak menarik. Keadaan ini memang menjadi hal yang memprihatinkan di Indonesia. Masyarakat sepertinya memandang sejarah hanya sebagai materi pelengkap pembelajaran saja, bukan sebagai materi pokok dalam proses pembelajaran dengan tujuan nasionalisme.
Rama Dira (2008) mengungkapkan bahwa “pada kenyataannya, pengajaran sejarah di banyak sekolah tak lebih dari transfer ilmu guru ke murid di dalam kelas melalui komunikasi satu arah. Murid hanya menjadi obyek pasif yang mempunyai kewajiban menghafal catatan yang diberikan guru supaya bisa menjawab soal-soal yang akan diujikan”. Realitas diatas merupakan kondisi yang perlu disikapi dan dicarikan permasalahannya. Solusi bijaksana dalam upaya membumikan pelajaran sejarah di sekolah hendaknya dibuatkan sebuah metode pendekatan yang tepat. Metode pendekatan pembelajaran menurut Akhmad Sudrajat (2008) dilihat dari pendekatannya, terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered approach). Bila kita telaah maka metode pembelajaran yang teacher centered lebih banyak di pakai dalam pembelajaran sejarah walupun paradigma ini sudah tidak zamannya lagi mengingat karakternya yang klasikal dan otoriter searah. Berbeda dengan pendekatan yang student centered akan jauh lebih menghargai potensi peserta didik dan tidak searah, melainkan ada komunikasi dua arah dimana posisi tenaga pendidik sebagai mitra belajar.

Pendekatan Pembelajaran Sejarah
Kesejajaran posisi dalam KBM antara tenaga pendidik dan peserta didik membuka peluang terhadap munculnya sikap yang apresiatif dan demokratis, kondisi ini akan lebih mampu mengeksplor kompetensi siswa dalam mata pelajaran sejarah. Suasana psikologis yang familier sejajar menghilangkan rintangan mental yang akan membekukan dan memasung kecerdasan individu yang pariatif. Suasan klasikal dalam pembelajaran dua arah ini akan hilang berganti dengan suasana KBM yang individual dan lebih mengedepankan knowledge dan skill peserta didik.
Pandangan searah dari Anggara (2007:104) tentang metode pembelajaran yang efektif menyatakan bahwa “ Salah satu metode pembelajaran sejarah yang cocok untuk menjadikan siswa aktif dan guru sebagai fasilitatornya adalah kontruktivisme, inquiry, dan cooperatif learning. Pembelajaran sejarah akan jauh lebih efektif bila peserta didik dilibatkan dalam pembelajaran secara penuh dan demokratis. Pembelajaran yang efektif dapat terjadi bila tenaga pendidik memilik kepribadian yang baik dan mencintai peserta didik dan profesinya. Guru adalah pemegang kunci (key person) dalam meningkatkan pembelajaran yang efektif untuk keberhasilan siswa merekam pengalaman belajarnya. Proses pembelajaran akan lebih efektif bila tugas professional guru dipenuhi yakni, merencanakan program pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, serta menilai proses pembelajaran secar obyektif dan berkelanjutan.
Seorang guru hendaknya melakukan inovasi dan terus belajar bersama siswa dalam rangka meningkatkan keberhasilan efektifitas pembelajaran. Diantara terobosan pembelajaran yang baik serta belajar bersama siswa adalah melakukan kunjungan lapangan pada situs-situs sejarah. Penulis sepakat dengan Hari Untoro Drajat yang mengatakan bahwa , metode pembelajaran sejarah melalui kegiatan Kenali Negerimu Cintai Negerimu (KNCN) sangat efektif dan menarik dalam memberikan pemahaman mengenai peristiwa sejarah kepada siswa. Hari Untoro Drajat menghendaki dengan metode diatas siswa dapat berinteraksi langsung dengan obyek atau pelaku sejarah, sehingga terjadi diskusi dan eksplorasi pemahaman sejarah yang lebih luas. Eksplorasi pengetahuan sejarah di luar kelas menjadi suasana dan tantangan baru yang tidak menjenuhkan dan memenuhi jiwa petualang intelektual siswa yang serba ingin tahu. Ada spirit baru dalam lawatan sejarah dilapangan dan telah menjadi kompensasi bagi kejenuhan di ruang perpustakaan atau kelas yang selama ini menjadi istana buku dan penjara pendidikan bagi psikologis peserta didik.
Spirit baru belajar bersama dalam ruang terbuka dunia nyata , melihat, menyentuh, minginterpreasi, dan berimajinasi tentang sistus-situs bersejarah akan melibatkan emosi dan knowledge-nya. Kalau afeksinya sudah tergugah maka pembelajaran sejarah menjadi lebih efektif dan menggiring pada suasana menyenangkan, informatif, imajinatif, dan edukatif. Kalau pembelajaran sejarah sudah mendidik dan menyenangkan maka siswa akan lebih mudah menyerap materi sejarah karena nuansa edu-tainmentnya telah menjadi jebakan positif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar