Rabu, 09 Maret 2011

TUMBUHNYA ALAT VITAL BARU PADA ANAK REMAJA


Oleh : Dudung Koswara

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat melahirkan perubahan baru dalam kehidupan manusia. Era IT terus melejit bagaikan busur panah melintas di atas peradaban manusia, tak dapat dihentikan dan takan pernah berakhir. Bila kita menoleh kebelakang dan membuka referensi kebudayaan awal manusia, rasanya mustahil peradaban manusia dapat sampai pada kehidupan modern seperti sekarang ini. Bagaimana manusia prasejarah begitu sulit berkembang dari satu fase kehidupan pada fase kehidupan selanjutnya. Kehidupan sekarang seperti sinetron yang kejar tayang begitu cepat berubah, kehidupan seperti industri peradaban. Bagaimana kehidupan 1000 tahun kemudian? Wow sungguh mengejutkan. Hanya dapat dijawab oleh prediksi imajiner manusia.

Kehidupan terus berjalan dunia IT terus berlari. Kemajuan IT yang berkontribusi positif pada ekonomi bangsa tertentu , telah melahirkan kontribusi negatif pada bangsa tertentu yang terbelakang. Bangsa atau masyarakat pemakai menjadi komunitas konsumtif yang pasif pada produksi tetapi aktif menggunakan. Kita bangsa yang perlu belajar banyak dari kemajuan bangsa lain. Bangsa kita cenderung menjadi pasar potensial bagi bangsa lain dalam memasarkan hasil produksinya, termasuk produksi ideologi dan gaya hidup yang belum tentu baik bagi kita.
Mari kita lihat realitas yang hadir dalam kehidupan keseharian kita. Kita sering memperhatikan bagaimana seseorang begitu asyik dengan sebuah benda ditangannya. Penulis sering memperhatikan terutama seorang remaja begitu serius ia menggunakan benda yang ada ditangannya. Benda berukuran kecil tetapi "mewadahi" hampir semua yang ada didunia ini. Benda ini telah menjadi "alat vital" baru yang tumbuh/marak dikalangan remaja. HP menjadi benda paling membantu dan "mematikan" dalam kehidupan sekarang. HP bukan saja menjadi bagian dari gaya hidup tetapi telah menyatu pada seseorang menjadi alat vital baru.

Ada anak remaja yang berani menjual "mahkotanya" demi benda kecil yang namaya HP. Berani "menyerahkan diri" pada om-om demi mendapatkan pulsa untuk berkomunikasi dan menghidupkan HP-nya. Mendapatkan HP seperti mendapatkan segalanya. Kehilangan HP seperti kehilangan segalanya, sebuah mental konsumtif yang masuk pada kategori mabuk. Penulis pernah bretemu dengan seorang ibu dan menyatakan bahwa anaknya seperti memiliki kelainan dengan HP-nya. Ternyata siibu tadi menemukan banyak film "dewasa" pada HP-nya. Siibu berniat mengambil HP-nya. Ia (anaknya) mengancam akan bunuh diri bila HP-nya mau dirampas oleh ibunya.

Pencurian, sex bebas, prostitusi, bolos, tawuran, geng motor dan bentuk kenakalan lainnya dalam dunia remaja terjadi banyak berkaitan dengan penggunaan dunia HP. HP dengan fasilitas multifungsinya telah mampu menyajikan berbagai "menu" yang menarik. Remaja dengan mental yang belum matang telah digiring pada area terlalu luas untuk dijelajahi dengan media HP-nya. "Dunia dewasa" yang selama ini tabu dan belum pernah mereka lihat telah menjadi konsumsi keseharian dalam genggaman mereka. Mereka cekikikan dan berdiskusi tentang dunia ini, bahkan ujungnya mereka dapat terjebak dalam keinginan untuk melakukan percobaan. Penulis tidak bermaksud "mengeksekusi" HP sebagai media berpenyakit, tetapi melihat sisi lain dari dampak benda vital ini terhadap dunia remaja.

Mungkin penulis terlalu berlebihan menganggap HP multifungsi sebagi benda yang rawan digunakan negatif pada usia yang belum dewasa, pada usia yang sedang tumbuh. Sebagai praktisi pendidikan yang keseharian bersentuhan dengan dunia remaja, penulis cukup khawatir dengan kenyataan yang ada. Hasil razia HP dikalangan pelajar yang diadakan disekolah mengindikasikan banyak hal negatif yang terjadi.

Bersambung...........

DK ORIGINAL


BUKALAH MATAMU BILA ADA PEMANDANGAN YANG INDAH
BUKALAH HATIMU BILA ADA ORANG YANG MESTI DITOLONG
BUKALAH PIKIRANMU BILA ADA KESALAHAN DALAM DIRIMU
BUKALAH DOMPETMU BILA ADA UANGNYA
BERIKAN PADA MEREKA YANG TAK BERDOMPET

PANCA INDRA ADALAH PASUKAN
PIKIRAN ADALAH PANGLIMA
HATI ADALAH RAJA
AGAMA ADALAH PANDUAN
TUHAN ADALAH TUJUAN

HATI DAN PIKIRAN YANG MERDEKA
HIDUPNYA LEBIH TERBUKA

Senin, 23 Agustus 2010

REMAJA PELAJAR, HAND PHONE DAN SELEBRITIS

Pada hari jumat tanggal 11 Juni 2010 penulis menerima telepon dari wartawan senior Republika Maman Sudiaman menanyakan tentang penggunaan HP dikalangan remaja pelajar di lingkungan pendidikan setingkat SMA. Penulis berdialog menjawab beberapa pertanyaan kritis seputar remaja pelajar dan HP, sebagai praktisi pendidikan yang memahami langsung dilapangan penulis jelaskan seobjektif mungkin. Selesai dialog melalui HP penulis terdorong untuk menulis sebuah esai yang berkaitan dengan remaja pelajar dan gaya kekiniannya, semoga ada share dengan siapapun yang sempat membaca tulisan saya ini.

Dalam kamus psikologi perkembangan usia remaja adalah usia yang sangat rawan serta penuh resiko, maka dibutuhkan sebuah rekayasa positif dalam meng-guide perkembangannya. Bila pada masa remaja berhasil dilalui dengan wajar dan sesuai tuntutan perkembangan kejiwaan remaja, maka perkembangan kedepannya akan lebih baik. Sebuah fase yang tidak sederhana
bagi seorang remaja pelajar dimana dalam usia yang relatif muda ia harus memahami berbagai fenomena yang ditemukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemajuan iptek telah menciptakan kondisi sosial yang lebih heterogen dan serba menawarkan kejutan-kejutan baru yang dapat mengagetkan sosok remaja pelajar.

Perkembangan kepribadian remaja yang sedang tumbuh pesat di tengah iklim globaisasi dengan segala tren baru yang muncul sepertinya menawarkan sesuatu yang menstimulus sisi kepenasarannya untuk “mencicipi”, kondisi ini akan direspon oleh remaja dengan segala keterbatasannya. Gaya hidup produk globalisasi dan kompetisi antar bangsa di muka bumi ini disaksikan dan dirasakan sekaligus dikonsumsi oleh hampir seluruh umat manusi dan remaja pelajar yang ada didalamnya. Usia remaja masuk pada kategori sedang mencari janti diri, ia akan mengapresiasi dunia sekitarnya dan ia akan melakukan identifikasi, imitasi, pengidolaan dan mengkonsumsi sesuatu yang sedang tren. Psikolog anak dan remaja dari Empati Development Center, Dra Roslina Verauli MPsi membahasakannya dengan fase konsep diri.

Mencari jati diri dalam rangka melabeli diri dengan identitas yang pantas dan dapat diakui oleh orang lain tertanam kuat dalam usia remaja pelajar. Memetakan konsep diri pada usia remaja tidak akan berjalan baik tanpa bantuan pihak lain yang lebih dewasa. Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang. Kalau Hall berpendapat masa remaja adalah masa badai dan tekanan maka remaja yang sedang berada pada area ini sedang membutuhkan pertolongan dalam menyelamatkan diri dari “tekanan dan Badai” kehidupan yang dahsyat.

REMAJA PELAJAR
Siapa sebenarnya remaja itu? Dalam beberapa literature dijelaskan tidak seragam tetapi tidak terlalu mencolok perbedaanya. Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved. Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.
Dari literatur diatas nampak bahwa remaja adalah individu yang sedang berkembang pada fase yang sangat rawan, tidaklah heran penulis sebagai pekerja didunia pendidikan yang bergelut pada peserta didik usia remaja, merasakan benar phenomena ini. Dengan segala keterbatasan ilmu psikologi para tenaga pendidik berusaha memahami mereka dalam rangka mengarahkan agar tugas perkembangan remaja berjalan dengan wajar.
HAND PHONE
Dunia iptek yang kian maju melahirkan berbagai produk unggul dalam memberikan kemudahan pada manusia sebagai mahluk budaya. Satu produk yang sangat digandrungi remaja adalah Hand Phone, sebagai alat komunikasi yang epektif dan multifungsi. Remaja tanpa HP sepertinya ketinggalan zaman dan menderitakan, pergaulan dan pertemanan akan semakin asyik dengan media HP. Tidak heran bila kita perhatikan di rumah, sekolah, di anggkot, Mall dan dimanapun anak usia remaja ada, ia menenteng HP bahkan begitu aktif menggerakan jarinya memijit tombol HP miliknya. HP seperti menyatu pada kehidupan mereka, pengalaman penulis pernah berkomunikasi dengan orang tua siswa kelas X SMA ia menceritakan anaknya siang dan malam memainkan HP-nya seperti kecanduan. Mungkinkah HP ini menjadikan anak remaja adiksi dan “sakau” menggengam alat komunikasi? Maaf penulis mengibaratkan dalam tubuh remaja ada beberapa alat vital seperti; jantung, paru-paru, hati,mata dan mendapat tambahan satu yakni HP. HP alat “vital” baru yang melekat seperti kanker yang menempel pada badannya.

HP diciptakan untuk alat komunikasi antar manusia, maka peranan HP sangat dominan dalaam kehidupan kita karena komunikasi adalah sebuah budaya abadi sepanjang manusia ada. Segala hasil teknologi yang berhubungan dengan informasi dan komunikasi nampaknya selaras dengan kepentingan manusia kekinian. HP menjadi primadona dan barang yang sangat berharga bagi kita sebagai manusia, apalagi remaja. Sungguh mengkhawatirkan bila HP dengan segala fasilitas didalamnya dipegang dan dikendalikan oleh sosok remaja yang belum dewas. Akses bebas dunia informasi dan komunikasi menyebabakan banyak celah yang kurang baik bila pengaksesnya bukan orang dewasa. Ketidakstabilan mental dan pengetahuan yang belum cukup , akan menyebabkan remaja pada situasi yang dapat merugikan perkembangan kejiwaannya.

HP diantara sebagian remaja selain alat komunikasi dianggap sebagai aksesoris yang memperlihatkan gaya hidup bahkan strata sosial. Gaya hidup ini yang kemudian mendorong remaja untuk memiliki HP yang sedang trend dengan harga tinggi. Memiliki HP dengan harga yang tinggi menambah keberanian dan superior pribadi, sehingga pergaulan dengan teman-temannya semakin agresif dan percaya diri. Tidak disadari oleh remaja bahwa kepercayaan diri karena barang tertentu sebenarnya masuk kategori hedonis dan konsumtif. Mereka telah masuk pada kategori (maaf) Generasi Iklan, berganti-ganti model HP mengikuti tayangan televisi dan ingin dianggap up to date dan modis. Remaja kita sedang masuk pada jebakan hidup hedonis dan tercerabut dari falsafah hidup yang seharusnya lebih kreatif bukan konsumtif.

SELEBRITIS
Satu lagi bagian tak terpisahkan dari dunia remaja pelajar kita yakni sosok yang menjadi idola mereka, biasanya banyak muncul dari kalangan artis yang berbau hiburan. Ekspresi remaja yang sedang tumbuh menggelora lebih dapat tersalurkan dengan mengikuti gaya hidup seseorang yang dianggap pantas dan baik menurut ukuran subjektif mereka. Emosionalitas remaja yang sedang tumbuh kuat lebih jauh melesat kedepan dibanding rasionalitas dan kedewasaannya. Kenyataan ini menyebabkan ada beberapa hal yang terlampaui atau sengaja diabaikan, terutama yang berhubungan dengan kesantunan sosial dan budi pekerti. Sepertinya benar dan harus untuk mengikuti gaya dan prilaku artis idolanya, kalau tidak mau dianggap ketinggalan jaman atau kurang bergaul (kuber). Disebut kuber sebuah tamparan paling menyakitkan bagi remaja yang memiliki emosionalitas yang labil, apapun akan ia tempuh agar tidak mendaptkan labeling Sikuber.

Gaya ramut, berpakain dan hal lain yang menempel pada selebritis terbawa kuat pada penampilan remaja pelajar kita. Kondisi ini menjadikan satuan pendidikan cukup ribet dalam menegakan peraturan sekolah yang harus seragam dan taat aturan. Jiwa remaja pelajar yang sedang dalam usia mengidentifikasi dan mengimitasi idolanya tidaklah mudah untuk diarahkan pada identifikasi dan peniruan pada tokoh lain yang dianggap lebih baik. Apalagi remaja pelajar mengidolakan sosok selebritis yang kemudian dihadirkan di sekolahnya, lengkaplah sudah proses pengidolaan berjalan dengan kuat. Walaupun tidak semuanya negatif, masuknya group band dan selebritis ke dunia sekolahan harus disikapi secara kritis dan bijaksana mengingat usia remaja pelajar dalam fase identifikasi dan mencari idola.

Selebritis dengan segala keunikannya terkadang menjadi sebuah daya tarik dan penyebab seorang remaja pelajar untuk mengaguminya. Penulis tidak setuju menghadirkan selebritis (artis) yang muatan kompetensinya jauh dari dunia edukatif. Mengakrabkan remaja pelajar dengan selebritis memiliki resiko yang tidak ringan yang berdampak pada mentalitas dan daya juangnya sebagai seorang pelajar. Menurut Nova Jono Ariyanto (2010) selebriti seperti musisi, bintang film, tapi juga individu lain yang sering mereka lihat, atau yang disebut public figures, dianggap juga sebagai role model atau idola. Jono selanjutnya menjelaskan bahwa Selebriti sendiri, dikatakan bisa mempengaruhi 75 % fase kehidupan remaja. Apa yang dijelaskan Jono menurut hemat penulis tidaklah berlebihan mengingat bila ada selebritis idola remaja manggung maka menyemutlah remaja pelajar dihadapannya. Lebih parah lagi mental mereka yang rawan dan sedang tumbuh tak sanggup berhadapan langsung dengan idolanya ia histeris dan terkulai pingsan.

Untuk lebih melengkapi esai sederhana ini penulis mencoba memberikan solusi dan saran demi menggiring remaja pelajar Indonesia pada langkah dan mental sewajarnya sebagai seorang pelajar. Semoga dengan kiat sederhana ini remaja pelajar harapan dan masa depan bangsa ini masih dapat diselamatkan, yang harus dilakukan;

Pertama intensifikasi pendidikan informal sebagai fondasi mental awal remaja pelajar. Orang tua dan lingkungan rumah yang kondusif dan well educated akan memberikan fondasi yang kuat terhadap mental remaja pelajar. Kedekatan orang tua dan kualitas komunikasi yang baik, humanis, serta penuh keteladanan akan mengurung mental negatif remaja untuk melakukan hal-hal yang tidak baik. Orang tua yang mampu meng-guide perkembangan psikologi remaja dengan segala bentuk prilakunya secara tidak langsung telah menjadi teman yang diidolakannya.

Kedua maksimalisasi pendidikan formal, maksudnya adalah mengupayakan setiap satuan pendidikan untuk membangun lingkungan yang kondusif bagi perkembangan remaja pelajar. Budaya kerja yang baik pada satuan pendidikan akan berimbas positif terhadap mental remaja pelajar. Tugas dan fungsi sebagai remaja pelajar akan lebih dapat difahami oleh peserta didik dengan satuan pendidikan yang berkualitas. Lingkungan yang edukatif dan demokratis serta mencerdaskan pada satuan pendidikan akan mendewasakan remaja pelajar lebih cepat. Tumbuhnya kedewasaan yang distimulus oleh lingkungan pendidikan menjadi fondasi dan bekal bagi remaja pelajar untuk gaul pada dunia diluar sekolah. Resistensi yang baik terhadap segala hal baru yang didapatkan dilingkungan masyarakat dapat dipompakan oleh tenaga pendidik disekolahnya. Pengetahuan remaja pelajar yang diperoleh dari gurunya sebagai ongkos melintasi tantangan eksternal dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga apresiasi sosial, maksudnya adalah setiap warga masyarakat hendaknya memiliki cukup kepedulian dan wawasan dalam menghargai setiap langkah remaja pelajar. Segala kekurangan mereka seharusnya diapahami bersama sebagai sebuah proses yang belum selesai, masyarakat bertanggungjawab untuk ikut berpartisipasi dalam mengawal tugas perkembangan mereka. Sebuah misi ideal dan tidak mudah untuk memberikan pemahaman pada masyarakat akan eksistensi remaja pelajar. Remaja pelajar adalah anak dari masyarakat yang sedang tumbuh dan meminta perhatian masyarakat sebagai wilayah belajar kedewasaannya.

Demikian tulisan ini saya buat semoga ada manfaatnya, minimal membuat pembaca mau mengkritik dan tersenyum untuk memaknainya. Pepatah bijak mengatakan bangsa yang tidak peduli dan kurang memperhatikan masa depan generasi mudanya (remaja pelajar) adalah bangsa yang biadab, karena generasi muda menentukan keberlangsungan sebuah bangsa. Membicarakan generasi muda (remaja pelajar) adalah sebuah diskursus tentang masa depan sebuah bangsa. Mari kita menanam kebaikan dinegeri ini dengan inten dan apresitaf terhadap masa depan bangsa kita yakni remnaja pelajar. Apatisme kita pada remaja pelajar __yang sedang dikepung oleh globalisasi dengan segala dampaknya__ akan melahirkan dampak jangka panjang pada bangasa in.

 

Senin, 05 Juli 2010

MENGAJAR DI KELAS BERWIRAUSAHA DI PESTA

Oleh : Dudung Koswara

Dunia guru adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupanku sebagai warga masyarakat, dalam tulisan ini saya memiliki keinginan untuk berbagi cerita tentang “sisi lain” kegiatan saya sebagai seorang guru ditengah pengabdian sebagai pelayan masyarakat yang bergerak dalam dunia pendidikan. Semoga kisah saya ini ada manfaatnya, terutama bagi rekan-rekan seperjuangan seluruh guru di Indonesia. Tidaklah dilarang seorang guru untuk memiliki usaha atau profesi lain disamping sebagai guru selama tugasnya sebagai pendidik tidak “dirugikan”. Nilai tambah yang berharga ketika wawasan keguruan dipadu dengan wawasan lain yang memiliki kekhasan tersendiri, yakni dunia wirausaha. Berwirausaha dan menjadi guru dapat saling mendukung seandainya didalami dan dikelola secara profesional apapun jenis usahanya. Sosok guru yang memiliki kemampuan enterpreuneur menurut saya memiliki nilai plus , karena pengalamannya ini dapat menginspirasi peserta didik dalam kelas seandainya mereka bertanya dan ada kaitannya dengan wirausaha.

Saya sendiri memiliki jenis usaha sederhana yang berkaitan dengan layanan jasa pesta yakni ES KRIM PUTER DAN ES CARVING, usaha ini sudah saya rintis sejak tahun 2000 dengan modal awal 10 jutaan. Syukur pada Tuhan usaha ini sampai hari ini masih berjalan dan terus berkembang , saya berpikir pesta (seperti pernikahan, khitanan dan syukuran yang lainnya) takkan pernah berakhir akan selalu ada. Konsumen saya adalah mereka yang akan melaksanakan pesta atau hajatan, lebih beruntung lagi setiap kegiatan pesta waktunya sebagian besar adalah pada hari sabtu dan minggu. Hari sabtu dan minggu tidaklah mengganggu pekerjaan saya sebagai guru, kalau hari minggu saya dapat langsung memantau karyawan saya bekerja dan hari sabtu saya hanya mengarahkan saja, saya masih bisa bekerja sebagai guru.

Anak sekolah yang mau belajar bekerja __yang saya ajar di SMAN1 Kota Sukabumi dimana tempat saya mengajar__ dapat belajar mencari uang sendiri melalui usaha saya ini. Selain teori dan motivasi tentang kewirausahaan, saya dapat mengajarkan bagaimanan bekerja, melayani orang lain dan mencari uang ditempat pesta. Nama usaha yang saya miliki adalah “CENDANA WEDDING PARTY” dengan alamat Villa Taman Edelweiss No 37 C Sukabumi Tlp. (0266) 6250468. Banyak hal yang saya dapatkan, kepuasan bathin, pendapatan bertambah, punya karyawan, banyak relasi catering, punya warisan usaha untuk anak-anak saya kemudian. Tidak sedikit rekan seprofesi yang menggunakan produk saya ini, mereka merasa terbantu ketika ada acara pesta keluarga, sebagai bonus saya bersedia secara gratis menjadi konsultan pesta bila mereka memakai produk saya.

Usaha ini memberikan semangat dan kepercayaan diri yang luar biasa bagi saya, mengabadi pada dunia pendidikan sebagai guru, berwirausaha untuk keluarga dan membuka lapangan pekerjaan bagi tetangga dekat. Bila saya pensiun nanti usaha saya ini akan setia menemani dan terus berinovasi melayani konsumen sebagai tambang rezeki. Bagi guru-guru diseluruh Indonesia mari menjadi guru yang professional mengabdi mencerdaskan bangsa dan ciptakan lapangan pekerjaan untuk bangsa, awali dan mulai hari ini. Pendidikan karakter dan kompetensi enterpreuneur yang akan dimasukan pada kurikulum dunia pendidikan akan menjadi mudah bagi guru yang mengabdi secara professional plus memiliki jiwa kewirausahan.

Sebagai spirit kepada rekan seperjuangan usaha saya ini tidak mengganggu pekerjaan saya sebagai guru, saya mengajar seperti biasa, saya ketua MGMP Sejarah Kota Sukabumi, saya melanjutkan kuliah di pasca sarjanan , saya memiliki dua piala dan piagam tingkat nasional bidang keguruan, saya dapat juara 1 provinsi bidang seni, juara 1 Kota bidang seni. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan mari kita untuk “ngotot” melangkah lebih baik memberikan kebermanfaatan bagi semua dimanapun kita berada.

Kamis, 10 Juni 2010

BIROKRASI RAMAH LINGKUNGAN MEMBENTUK KARAKTER MASYARAKAT PEDULI LINGKUNGAN

Oleh : Dudung Koswara

“Ketika pohon terakhir telah di tebang, sungai terakhir telah tercemari dan ikan terakhir telah ditangkap , kita akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan…” Pesan Greenpeace ini mencoba memberikan penyadaran dini pada masyarakat manusia yang mengindikasikan tak pernah mau peduli pada kepentingan lingkungan tempat dimanan kita hidup. Kepentingan akan uang dan sesuatu yang lainnya dimata komunitas pencinta lingkungan telah mengaborsi keberlangsungan harmonitas lingkungan. Manusia sebagai mahluk money oriented dicoba disadarkan dengan pesan diatas dari komunitas pecinta lingkungan yang sama pengguna uang tetapi tidak menggunakan uang dengan merusak lingkungan tempat siapapun melangsungkan hidupnya. Tuhan tidak menciptakan uang tetapi menciptakan lingkungan hidup tempat dimana kita melangsungkan regenerasi. Mewariskan uang pada anak cucu kita tidaklah lebih penting dibanding mewariskan lingkungan kehidupan alam yang harmoni, uang dapat dicetak bahkan dipalsukan lingkungan tidak.

Almarhum Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto “begawan” Lingkungan Hidup Indonesia yang juga memiliki reputasi internasional mengkritk keras tidak hanya kepada kita sebagai individu warga masyarakat tetapi juga pada pemerintahan di negeri ini, ia mengatakan ”Pembangunan yang dilaksanakan negara ini sejak tahun 1971 tidak melibatkan lingkungan,”dalam pemikiran beliau pembangunan ekonomi selalu lebih dominan dan meminggirkan kepentingan lingkungan. Pesan Prof. Otto dalam pembangunan yang berkelanjutan hendaknya memikirkan tiga hal penting yakni, ekologi, ekonomi dan sosial. Para pengambil kebijakan dinegeri ini tidak merencanakan pembangunan dengan baik (tidak berkelanjutan), yang muncul adalah pembangunan selalu bertentangan dengan lingkungan hidup. Spirit Prof. Otto tidak jauh berbeda dengan komunitas Greenpeace di atas yang mencoba memberikan skala prioritas pada kepentingan lingkungan hidup. Orientasi ekonomi (uang) tanpa pemahaman tentang pentingnya kecintaan dan kepedulian pada lingkungan akan melahirkan mental menumpuk uang menghancurkan ekologi (ekosistem) yang merupakan warisan bangsa yang terus harus dijaga kelestariannya. Lingkungan hidup yang tidak dijaga dan dilestarikan (konservasi) akan berubah menjadi lingkungan mati, kebalikan dari lingkungan hidup.

Tulisan singakat sederhan ini mencoba mengupas betapa pentingnya kepedulian pada lingkungan (environmental ethic) bagi setiap warga masyarakat Indonesia, selain berbagai upaya yang dilakukan oleh individu atau komunitas pecinta lingkungan tertentu, penulis menganggap perlunya upaya yang maksimal dari pemerintah. Pemerintah pusat sampai pemerintah daerah harus memiliki sebuah komitmen yang kuat dan serius dalam mengaplikasikan pemeliharaan dan kelestarian ligkungan. Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab II pasal 2 ditegaskan bahwa Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan berdasarkan tanggung jawab Negara. Pemerintah atau Negara harus menjadi skenario dan sutradara handal dalam mebentuk kesadaran kolektif tentang urgensitas dan strategisnya ekologi kita, inilah yang dimaksud penulis Birokrasi Ramah Lingkungan.

Birokrasi (pemerintah) harus mampu memberikan pencerahan dan motivasi kreatif pada masyarakat untuk mencintai lingkungannya, bila perlu membiayai, dan memberikan reward khusus pada masyarakat atau individu yang memiliki kepekaan lebih pada lingkungannya. Penulis sangat terkesan ketika berkunjung ke Kota Tomohon - Sulawesi Utara setahun yang lalu, pemerintah Kota Tomohon selain memiliki Hutan Kota sebagai manifes cinta lingkungan juga diterapakan sistem birokrasi tanam pohon. Birokrasi tanam pohon ini maksudnya adalah sebuah upaya pembiasaan bagi warga Kota Tomohon untuk peduli pada lingkungannya, disana diterapkan budaya menanam pohon dulu sebagai prasyarat mengurus kepentingan birokrasi. Contoh sederhananya adalah ketika seorang warga mau mengurus KTP-nya maka ia diwajibkan menanam pohon dan mengurusnya. Sebuah upaya cinta lingkungan yang disutradarai oleh pemerintah (birokrasi) setempat. Logo Pemkot Tomohon dengan gambar nuansa pegunungan yang hijau sepintas menyiratkan pesan filosofis “ marilah kita jaga kelestarian lingkungan kita yang indah dan nyaman”, tidaklah heran kalo Kota Tomohon mendapat julukan Kota Bunga, bahkan menjadi tempat berkunjungnya para turis baik domestic maupun luar negeri. Mengapa tidak birokrasi pemerintah daerah di seluruh Indonesia mengadopsi kebijakan ramah lingkungan seperti Kota Tomohon.

Ada memorial inspiratif dari Raja Nebukadnezar II yang memerintah dari tahun 605-562 SM membuat sebuah taman yang indah untuk permaisurinya yang bernama Amytis bagi penulis ini adalah sebuah upaya penanaman kecintaan birokrat pada keasrian lingkungan. Bagaimana sebuah Taman Bergantung dibuat sebagai miniatur lingkungan yang ideal, walaupun Nebukadnezar mempersembahkan untuk permaisurinya tetapi secara tidak langsung ia mempersembahkan pada masyarakatnya bahwa betapa pentingnya keasrian lingkungan. Lebih jauh miniatur lingkungan asri Nebukadnezar ini menginspirasi para sastrawan dan sejarawan pada zamannya untuk menuliskan tentang keindahannya, bahkan masuk kategori tujuh keajaiban dunia. Indah nian kalau semua keajaiban dunia ramah lingkungan dan tidak sebaliknya merusak lingkungan.

Berbeda dengan Nebukanezar sebagi seorang raja, seorang masyarakat biasa yang kebetulan sekampung halaman dengan penulis di Pancatengah Tasikmalaya bernama Abdul Razak begitu luar biasa kepedulian pada lingkungan , terbukti ia mendapat penghargaan Kalpataru dari Presiden Suharto tahun 1987. Sumbangsih Almarhum Abdul Razak pada lingkungan dan masyarakatnya begitu terasa, bagaimana 30 hektar sawah-sawah kering berubah menjadi produktif, bagaimana menciptakan listrik energy air mengerakan turbin yang menerangi masyarakat sekitar. Kebermanfaatan seorang rakyat biasa menjadi individu yang luar biasa karena kepeduliannya pada lingkungan. Abdul Razak membuat saluran air sepanjang 3 km melintasi bukit, tebing batu cadas , menerobos melubangi bukit sepanjang 200 meter, masih sangat kuat ingatan penulis ketika menyusuri saluran irigasi yang beliau buat, sungguh mustahil tapi terbukti. Abdul Razak dan Ma Eroh adalah pahlawan lingkungan yang patut diteladani, tidaklah berlebihan bila Pemda Tasikmalaya membuatkan patungnya di alun-alun tengah kota.

Birokrat ramah lingkungan serta warga masyarakat cinta lingkungan mampu menjadi kolaborasi strategis bagi kelestarian lingkungan dan keberlangsungan ekosistem secara berkelanjutan. Birokrasi dari atas membimbing dengan memberi contoh dalam oprasional kongkrit berupa kebijakan-kebijakan program yang peduli lingkungan. Individu teladan seperti Abdul Razak, Mak Eroh dan yang lainnya sebagai tringger bagi masyarakat sekitarnya untuk bahu-membahu melestarikan kepentingan lingkungan. Terutama pemda setingkat kota dan kabupaten diseluruh Indonesia hedaknya apresiatif dan proaktif dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan terjun langsung melalui petugas yang ditunjuk, bahkan penghargaan yang baik terhadap individu lokal yang peduli pada lingkungan harus diagendakan secara serius. Apresiasi istimewa pemda pada warganya akan mendorong warga masyarakat untuk peduli pada lingkungannya.

Sinerjitas birokrat dan masyarakat terhadap lingkungan adalah harapan dan investasi yang baik bagi keberlangsungan tata-kelola lingkungan. Birokrasi yang ramah lingkungan merupakan tindak lanjut dari Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009, akan menggiring masyarakat untuk meberdayakan dirinya dalam menjaga kelestarian lingkungan yang merupakan kepentingannya sendiri. Penulis beranggapan adanya pembangunan yang mengabaikan kepentingan lingkungan yang dilakukan oleh pemerintah secara tidak langsung menjadi iklan negatif terhadap kecintaan lingkungan. Apalagi bila para birokrat dan pejabat tinggi dengan seenaknya membangun villa-villa mewah di daerah strategis resapan air yang menjadi andalah kehidupan masyarakat. Bentuk protes warga masyarakat terhadap arogansi para pejabat yang tidak bertanggung-jawab bisa berupa aksi ketidak pedulian pada lingkungan bahkan perusakan lingkungan.

Hemat penulis dalam memberdayakan masyarakat agar peduli lingkungan ada sebuah langkah edukatif yakni membangun kemitraan yang baik dengan semua institusi pendidikan terutama setingkat pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan kecintaan pada lingkungan perlu diupayakan sejak dini, para peserta didik adalah manusia masa depan yang akan banyak berperan dalam sebuah bangsa. Pemahaman dan praktek mencintai lingkungan perlu diterapkan secara serius di jenjang pendidikan formal mereka secara menyenangkan dan rekreatif. SDN CBM Pakujajar Kota Sukabumi adalah sebuah pilot projek yang baik bagaimana sebuah sekolah tingakat dasar mampu mejadi sekolah terbaik tingkat nasional dan mendapat penghargaan Adiwiyata Mandiri dari presiden di istana negara 5 Juni 2009. Sekolah ini menjadi area studi banding beberapa sekolah di Indonesia, bahkan Kepala Sekolahnya pernah menjadi nara sumber dalam sebuah seminar tingkat nasional.

Kebijakan birokrasi ramah lingkungan yang merupakan agenda setiap pemerintah daerah khususnya dengan menjalin kerjasama dengan semua pihak adalah sebuah upaya yang harus terus ditingkatkan. Masyarakat sebagai mitra pemerintah harus didekati dan diberikan pemahaman secara mendalam tentang strategisnya kepedulian pada lingkungn, peserta didik sebagai individu pelanjut masa depan bangsa harus terdidik lebih dini dan terbiasa menjadi individu cinta lingkungan. Pemberian penghargaan kepada SBY pada saat pembukaan Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup sedunia di Nusa Dua Bali dari UNEP PBB sebagai penghargaan khusus “UNEP Award for Leadership in Ocean and Marine Management” atas kepemimpinan dan komitmennya dalam berbagai isu lingkungan global dapat menjadi modal terus melangkah bagi Bangsa Indonesia untuk lebih peduli pada lingkungan.

Kalau kementerian pendidikan lebih konsen pada mencerdaskan kehidupan bangsa maka menteri lingkungan hidup lebih berorientasi pada mencerdas-hijaukan kehidupan bangsa. Anugrah Tuhan yang tak ternilai harganya dengan sebutan Jamrud Kahatulistiwa alangkah bijaksananya kita syukuri dengan perbuatan aplikatif berupa tindakan nyata kepedulian pada kelestarian aneka ragam hayati yang kita miliki. Biarlah semua dosa kita pada lingkungan terampuni dengan tidak mengekspolitasi alam secara tidak bertanggng-jawab. Mari kita mulai dari diri kita sendiri saat ini dan seterusnya, apa yang dapat kita berikan untuk generasi kemudian tiada lain diantaranya adalah kelestarian lingkungan. Jangan sampai mereka menikmati indahnya bumi anugrah Tuhan ini hanya dalam gambar atau animasi belaka. Marilah kita bijak dan santun pada alam yang menurut orang Indian adalah ibu dari semua ibu, merusaknya sama dengan menyakiti seorang ibu. Jauhkan diri kita dari kutukan ibu pertiwi karena perbuatan sombong kita tidak mencintai lingkungan.

Semoga pemerintah sebagai sutradara, masyarakat sebagi aktor mampu berperan protagonis terhadap kelestarian lingkungan, mari berbuat bukan mari melihat. Kisah spiritual tentang seorang lelaki tua menanam biji kurma yang tidak mungkin akan dia nikmati karena sudah ujur, menginspirasi kita untuk berbuat secara ikhlas untuk kepentingan keberlangsungan kehidupan masa depan. Sikap mementingkan prioritas jangka panjang lebih baik daripada prilaku pragmatis serta apatis pada kepentingan yang lebih mulia di masa depan. Semoga Kementrian Lingkunan Hidup bersama Bapak Gusti Muahmmad Hatta lebih baik dan terus berbuat demi ibu pertiwi yang kita cintai.