Oleh : Dudung Koswara
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat melahirkan perubahan baru dalam kehidupan manusia. Era IT terus melejit bagaikan busur panah melintas di atas peradaban manusia, tak dapat dihentikan dan takan pernah berakhir. Bila kita menoleh kebelakang dan membuka referensi kebudayaan awal manusia, rasanya mustahil peradaban manusia dapat sampai pada kehidupan modern seperti sekarang ini. Bagaimana manusia prasejarah begitu sulit berkembang dari satu fase kehidupan pada fase kehidupan selanjutnya. Kehidupan sekarang seperti sinetron yang kejar tayang begitu cepat berubah, kehidupan seperti industri peradaban. Bagaimana kehidupan 1000 tahun kemudian? Wow sungguh mengejutkan. Hanya dapat dijawab oleh prediksi imajiner manusia.
Kehidupan terus berjalan dunia IT terus berlari. Kemajuan IT yang berkontribusi positif pada ekonomi bangsa tertentu , telah melahirkan kontribusi negatif pada bangsa tertentu yang terbelakang. Bangsa atau masyarakat pemakai menjadi komunitas konsumtif yang pasif pada produksi tetapi aktif menggunakan. Kita bangsa yang perlu belajar banyak dari kemajuan bangsa lain. Bangsa kita cenderung menjadi pasar potensial bagi bangsa lain dalam memasarkan hasil produksinya, termasuk produksi ideologi dan gaya hidup yang belum tentu baik bagi kita.
Mari kita lihat realitas yang hadir dalam kehidupan keseharian kita. Kita sering memperhatikan bagaimana seseorang begitu asyik dengan sebuah benda ditangannya. Penulis sering memperhatikan terutama seorang remaja begitu serius ia menggunakan benda yang ada ditangannya. Benda berukuran kecil tetapi "mewadahi" hampir semua yang ada didunia ini. Benda ini telah menjadi "alat vital" baru yang tumbuh/marak dikalangan remaja. HP menjadi benda paling membantu dan "mematikan" dalam kehidupan sekarang. HP bukan saja menjadi bagian dari gaya hidup tetapi telah menyatu pada seseorang menjadi alat vital baru.
Ada anak remaja yang berani menjual "mahkotanya" demi benda kecil yang namaya HP. Berani "menyerahkan diri" pada om-om demi mendapatkan pulsa untuk berkomunikasi dan menghidupkan HP-nya. Mendapatkan HP seperti mendapatkan segalanya. Kehilangan HP seperti kehilangan segalanya, sebuah mental konsumtif yang masuk pada kategori mabuk. Penulis pernah bretemu dengan seorang ibu dan menyatakan bahwa anaknya seperti memiliki kelainan dengan HP-nya. Ternyata siibu tadi menemukan banyak film "dewasa" pada HP-nya. Siibu berniat mengambil HP-nya. Ia (anaknya) mengancam akan bunuh diri bila HP-nya mau dirampas oleh ibunya.
Pencurian, sex bebas, prostitusi, bolos, tawuran, geng motor dan bentuk kenakalan lainnya dalam dunia remaja terjadi banyak berkaitan dengan penggunaan dunia HP. HP dengan fasilitas multifungsinya telah mampu menyajikan berbagai "menu" yang menarik. Remaja dengan mental yang belum matang telah digiring pada area terlalu luas untuk dijelajahi dengan media HP-nya. "Dunia dewasa" yang selama ini tabu dan belum pernah mereka lihat telah menjadi konsumsi keseharian dalam genggaman mereka. Mereka cekikikan dan berdiskusi tentang dunia ini, bahkan ujungnya mereka dapat terjebak dalam keinginan untuk melakukan percobaan. Penulis tidak bermaksud "mengeksekusi" HP sebagai media berpenyakit, tetapi melihat sisi lain dari dampak benda vital ini terhadap dunia remaja.
Mungkin penulis terlalu berlebihan menganggap HP multifungsi sebagi benda yang rawan digunakan negatif pada usia yang belum dewasa, pada usia yang sedang tumbuh. Sebagai praktisi pendidikan yang keseharian bersentuhan dengan dunia remaja, penulis cukup khawatir dengan kenyataan yang ada. Hasil razia HP dikalangan pelajar yang diadakan disekolah mengindikasikan banyak hal negatif yang terjadi.
Bersambung...........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar