(Telaah kritis rusaknya mental belajar siswa di era UN)
Oleh : Dudung Koswara
Pada tanggal 27 Maret penulis berdialog dengan seorang guru favorit salah satu sekolah negeri di Kota Sukabumi. Guru favourite ini mengeluh serius pada penulis tentang motivasi belajar siswanya yang semakin menurun, realitas yang tidak kondusif pada saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menurutnya menjadi indikasi turunnya motivasi belajar siswa. Siswa kesiangan, kurang mendengarkan guru , cuek dan susah berkonsentrasi pada saat KBM merepresentasikan sebuah penurunan motivasi belajar yang makin menggejala. Si Guru favorit ini __sudah tiga tahun ia menjadi guru idola__ mencoba mencari jawaban apa gerangan penyebabnya? Ada apa dengan siswanya? Mengapa ini makin menggejala?
Sebuah kenyataan yang buruk sedang terjadi pada siswanya. Pikirannya berputar lalu ia mengajak berdialog dengan siswanya. Kesimpulan dari dialog dengan siswa __yang beberapa saat itu__ dapat disipulkan bahwa “seorang siswa memiliki alasan untuk tidak belajar serius karena semuanya akan lulus berdasarkan fakta kelulusan sebelumnya bahwa kakak-kakak kelasnya 100% lulus, bahkan siswa bermasalah sekalipun lulus dengan nilai istimewa”. Si Guru favorit termenung dan curhat pada penulis. Siswanya percaya pada gosif bahwa pada saatnya nanti (UN) ia akan mendapatkan “pertolongan” dan keberuntungan entah dari mana datangnya. Sebuah kepercayaan diri yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan secara rasioal, ataukah ini menjadi rasional menurut pengalaman empirik mereka? Si Guru favorit kembali termenung dan tak nyaman dengan realitas aneh menurutnya.
Penulis tergugah dengan kegelisahan Si Guru favorit karena sama-sama sebagai paraktisi pendidikan dan pemerhati peserta didik. Kondisi ini mungkin sama dengan kegelisahan para pakar pendidikan yang sudah banyak menuangkan kegelisahannya seperti Prof. H.A.A. Tilaar (2008,iX) yang mengungkapkan bahwa realitas pendidikan kurang menjanjikan yang berhubungan dengan kebijakan pendidikan yang tidak konsisten dapat berakibat fatal pada nasib bangsa Indonesia. Senada dengan Tilaar , DR. E Mulyasa (2004;6) menjelaskan bahwa berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas belum menunjukan hasil yang menggembirakan. Darmaningtyas (2010) melukiskan potret pendidikan di negeri ini bukannya mencerdaskan anak bangsa, tapi justru mencemaskan anak bangsa. Kecemasan dan kegelisahan seorang guru pavorit dan para pakar pendidikan diatas menunjukan ada “sesuatu” dalam dunia pendidikan kita.
Tulisan ini akan mencoba menelaah lebih dalam tetang wacana diatas. Dari mana datangnya mind set peserta didik bahwa ia benar-benar akan lulus dengan tidak belajar serius. Andaikan Mind set peserta didik ini sudah menggejala dan menular secara kolektif pada peserta didik di negeri ini dapat disimpulkan oleh orang bodoh sekalipun bahwa negeri ini pada masa yang akan datang akan ada musibah besar, berupa tsunami kebodohan. Pendidikan Indonesia akan makin berat ke depan bila generasi muda terpelajarnya dihinggapi mental diatas. Angapan pasti lulus dari sebagian besar pelajar kita sangat bebahaya bagi motivasi belajar dan kondusifitas KBM.
Mari kita telaah darimana statement percaya diri berlebihan peserta didik ini muncul. Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Teuku Ramli Zakaria mengatakan, proses pendidikan menghasilkan ketidaklulusan 10 persen ke bawah masih dianggap wajar. Tapi jika yang terjadi lulus 100 persen, justru pendidikan itu dianggap semu dan tidak wajar. Pernyataan Zakaria tentang ketidakwajaran bila banyak sekolah yang lulus 100%, secara tidak langsung Zakaria menganggap ada sesuatu dibalik kesuksesan sekolah-sekolah yang lulus 100%. Jangan-jangan istilah “Tim Sukses” disetiap sekolahan pada saat musim UN identik dengan apa yang ada dalam pikran Zakaria. Saya sebagai penulis menganggap siswa yang malas dan menganggap akan lulus tanpa belajar disebabkan oleh “radiasi/bocornya” UN, sebuah dampak radiasi yang menyerang sisi mental pelajar. Banyak literatur yang menjelaskan sukses bukan karena kognisi tapi lebih banyak pada mental/sikap. Menganggap akan lulus dengan ikhtiar minimal dan asal-asalan sebuah sikap yang sangat berbahaya apalagi pada akhirnya ia lulus juga.
Ada kabar angin yang mengatakan bahwa bimbingan belajar tertentu mampu memiliki kunci jawaban UN, sebuah kabar angin yang menarik untuk dicermati. Kompas.Com menuliskan ada bimbingan belajar yang menjanjikan lulus UN 100%, luar biasa. Kalau sekolah saja sebagai lembaga formal yang mendidik siswa dengan sekian jumlah guru tidak sembarangan mengatakan akan lulus 100%. Bila kita mengacu pada tesis Zakaria anggota BSNP, kelulusan 100% apalagi sudah dijanjikan sebelumnya merupakan indikasi ketidakwajaran. Penulis sebenarnya pernah bertanya pada beberapa siswa peserta UN yang mengatakan adanya oknum yang menghimpun sejumlah uang untuk menebus kunci jawaban UN. Rekan penulis bahkan ada yang berpraduga yang menggiring pada institusi tertentu __yang makin diminati__ bertanggung-jawab atas bocornya UN.
Permasalahan ini makin rasional ketika sekolah makin diabaikan dan “ditinggalkan” secara mental karena kunci kelulusan ada diluar sekolah. Menurut teman penulis yang p¬¬¬ernah bekerja dibimbel ternama di Jakarta ia mengatakan pada tahun 1996 bimbel terindikasi membocorkan soal Ebtanas. Apakah tragedi ini berulang? Ketika kunci jaminan masuk masa depan (lulus UN dan masuk PT favorit) ada diluar sekolah maka sekolah formal dapat menjadi area formalitas. Jika sekolah menjadi area formalitas karena dianggap tidak memberikan “sesuatu” seperti lembaga bimbel , maka akan terjadi sebuah kondisi belajar yang asal-asalan dan tak bermakna. Bila proses edukasi berjalan tidak normal karena formalitas maka akan lahir sebuah generasi yang “invalid” dan tak berkutik untuk menjawab tatangan masa depan.
Bersambung………………..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar